Dokumentasi Mimpi semasa Kuliah. Terima kasih MIX

Saya paham betul. itu bukan hal yang perlu dibanggakan. tapi setiap orang di hidupnya memang punya banyak objektif kecil yang berbeda-beda kan? salah satunya saya.

Dulu saya punya mimpi yang tidak penting. saya ingin berada pada posisi strategis dan pada level menejerial yang cukup senior sebelum umur 30 tahun. ambil contoh ya Posisi GM atau Vice President. ditanya mengapa? ya tidak ada apa-apa. hanya pingin saja. lebih tepatnya mimpi anak kuliahan saja. Tapi benar kata orang, memang bermimpi itu salah satu cara untuk menyetel target. dan membuat kita berusaha menciptakan jalan untuk itu. Tanpa sadar kita jadi lebih terarah dalam menciptakan jalan karirnya.

Ulasan di MIX Magazine

Terima Kasih Mix Magazine atas tulisan singkatnya. saya tidak tahu apakah tulisan ini masih berlaku atau tidak, tapi sebuah kebanggaan mimpi kecil yang terealisasi ini di dokumentasikan oleh salah satu majalah bisnis/marketing terbaik di Indonesia.

 

Majalah MIX yang memuat artikel tersebut

 

 

Tentang Fondasi Hidup, dan yang berjasa membentuknya.

Hari ini saya menikmati satu gelas kopi Cappuccino di Coffeeberian. tempat favorit saya ketika saya memang butuh waktu untuk berbicara dengan diri sendiri. (lokasinya ada di Panglima polim tidak jauh dari Martabak Boss yang lagi Famous itu).

Ketika saya sedang duduk dan membaca buku, saya (dengan tanpa sengaja) mendengar pembicaraan meja sebelah. salah seorang lelaki di meja sebelah sedang berkeluh kesah tentang bertapa hidupnya tidak sempurna. penuh masalah dan dia merasa tuhan tidak adil kenapa pada waktu yang sama ada yang dia lihat hidup tanpa cela dan seolah tidak bermasalah. Dan puncaknya dia menyalahkan orang tuanya karena tidak berusaha lebih keras agar dia punya jalan lebih mudah di hidupnya.

Saya tersenyum. dan tertawa geli dalam hati.

Untuk saya pribadi, saya percaya kata-kata seorang ustad dalam salah satu seri sholat jumat yang saya datangi perihal kaya dan miskin, sukses dan gagal itu cara tuhan memberikan ujian. kebetulan caranya berbeda-beda. itu saja. ada yang diberi ujian dengan kemewahan dan bagaimana dia bisa merunduk kebawah dan ada yang diberikan Ujian dengan kekurangan dan bagaimana dia bisa merangsek naik. Klise? memang. tapi itu kenyataan.

Dan masih menurut saya juga, saya justru bahagia lahir dengan suasana keterbatasan. Dan saya bahagia lahir dari Orang tua saya yang paham betul cara menanam pola pikir mengakar yang menumbuhkan Pondasi bersikap, melawan dan membentuk hidup.

Sumber Gambar : ihei.wordpress.com
Sumber Gambar : ihei.wordpress.com

Orang tua saya bukan jutawan, Sehingga saya tahu pasti arti uang satu juta. Mungkin sedikit berbeda dengan orang-orang yang sedari kecil dengan begitu mudah meminta satu juta dari orang tuanya. pada ahirnya saya belajar dari tiap rupiah yang mereka hasilkan untuk anak-anaknya.

Orang tua saya bukan yang terlalu mudah menghadiahkan sesuatu, Sehingga saya tahu pasti artinya berusaha keras untuk mendapatkan hal yang saya inginkan. Makin keras yang saya usahakan, makin bernilai hal yang saya peroleh.

Orang tua saya tidak mudah bahagia dengan pencapaian saya, Sehingga saya tahu bahwa berusaha lagi, lagi dan lagi adalah keharusan dalam hidup. Legowo menerima tidak selalu harus diterapkan di aspek aspek hidup. dulu ketika sekolah, “Naik Kelas” bukanlah target, itu justru hanya keadaan “Selamat” dan sama sekali bukan prestasi.

Orang tua saya bukan orang tua yang mudah memaklumi kesalahan, Sehingga saya harus tahu setiap kesalahan berbuah konsekuensi. Hukuman mengajarkan saya untuk tahu ada hal-hal bodoh yang walaupun terkadang menyenangkan tapi lebih baik tidak diulangi. Saya sadar bahwa di dunia ini kita tidak hanya bertanggung jawab pada diri sendiri.

Pada akhirnya saya sadar, Orang tua adalah cerminan Tuhan bersikap dengan kita. Mereka terkadang mengarahkan dan membantu mensketsa jalan di hidup kita tidak selalu dengan cara yang kita anggap menyenangkan. Tapi mereka memahami jalur mana yang lebih baik kita ambil. mereka mengawal itu hingga pada saat mereka menganggap kita sudah cukup cerdas menggambar jalan kita sendiri. Mereka yang mengajarkan bahwa Keterbatasan adalah keharusan, apapun bentuknya. keterbatasan mengajarkan kita arti sebuah Tanggung jawab ketika kita menyelam, berlari dan Terbang semakin jauh.

Kepada tuhan, saya berterima kasih telah diizinkan memulai dan mengenal hidup lewat mereka berdua.

Tentang ilmu yang sangat ingin saya miliki.

Sumber gambar : http://www.kellyjbaker.com/wp-content/uploads/2014/01/dreams.jpg

 

Setiap orang, ketika jalan hidup nya mulai nampak arahnya (katanya sih biasanya ada di Umur 25) dia sudah harus semakin mengerucutkan rencana-rencana hidupnya. mulai dari keinginan untuk apapun musti difokuskan kepada jalan yang sudah terbentuk dan mulai terlihat pada umur itu.

Saya? terima kasih tuhan Cita-cita dan profesi saya masih sejalan dengan Mimpi saya dulu. dan saya terus berterima kasih dengan tuhan untuk hal ini. dan saya semakin berusaha keras untuk bisa semakin lebih baik lagi untuk mendapatkan Mimpi akhir saya.

Nah, tapi hari ini justru saya ingin Menulis mengenai Mimpi-mimpi yang tidak (atau belum saya dapatkan). disamping mimpi yang sedang saya kejar sekarang, saya pernah memiliki mimpi random mengenai sebuah profesi atau ilmu yang sangat ingin betul saya capai. ingin betul saya kuasai ilmunya:

 

Menjadi Programmer

Yap, anda tidak salah baca. saya ingin sekali menjadi Programmer. mengapa? menurut saya programmer itu seperti tuhan (mohon jangan diplintir, ini hanya analogi). mengapa saya bilang begitu? Para Programmer bisa menciptakan apapun yang ada dibenak mereka, dengan media Komputer sebagai “Dunia” untuk mereka berkarya. Programmer bisa menciptakan sesuatu dan menjalankannya sesuai kehendak mereka, mereka bisa memutuskan sejauh apa partisipasi orang lain bisa turut serta. mereka bisa menciptakan alur cerita yang mereka inginkan. bagi saya, Programmer semakin menjadi profesi yang pada akhirnya mengontrol banyak hal (termasuk dunia sepertinya :D )

 

Menjadi Penulis

Hampir sama, Penulis itu memiliki kemampuan untuk menciptakan dunianya sendiri. mungkin lebih statis, tapi penulis mampu menciptakan imajinasi bukan hanya dikepalanya, tapi dikepala para pembacanya. membaca buku karya seseorang seperti diizinkan masuk kedalam isi kepalanya. ini yang membuat saya selalu Kagum dengan para penulis. hingga saat ini saya terus bermimpi untuk melihat buku tulisan saya ada di area “Buku Baru” atau bahkan “Buku Laris” di Toko Buku Gramedia. yah paling tidak dari ketiga mimpi saya ini, mimpi yang ini yang masih sangat mungkin saya kejar jika saya berhasil menekan sifat malas saya untuk menulis.

 

Menjadi Interior Designer

Entah mengapa, saya yang sangat berantakan dan tidak teratur ini memiliki ketertarikan yang sangat mendalam terhadap Desain interior. saya bisa menghabiskan waktu berjam-jam hanya melihat karya-karya luar biasa dari para Interior Designer. bahkan kadang saya berlelucon bahwa dikehidupan sebelumnya saya adalah Interior Designer (halah). bagi saya, menata dan menciptakan keindahan seni pada ruangan adalah ilmu yang sangat seksi dan menyenangkan.

 

Seperti yang saya katakan sebelumnya, saya sudah sangat bersyukur dengan konsistensi saya mengejar mimpi utama saya, tapi bukan tidak mungkin ketiga poin diatas akan saya kejar walau sedikit lebih perlahan.

Idealisme, Mimpi dan Salary

kemarin baru saja sedikit kaget mendengar kisah demo pegawai telkomsel. perusahaan yang saya kira masih menjadi yang terbaik dari banyak sisi di dunia telekomunikasi indonesia. dari segi bisnis, prospek apalagi benefit. sedikit heran memang, berdasarkan informasi sahabat yang berkerja disana, benefit yang diterima sangatlah lebih dari cukup. rata-rata perbulan yang besar ditambah bonus 3 bulanan yang menggiurkan. dan mereka masih mendemokan kenaikan. dashyat.

pagi ini ngobrol dengan sahabat, tentang individu yang baru pada fase awal berkerja tapi hendak menuntut kesesuaian gaji hanya karena diberi sedikit tanggung jawab lebih.

Salary itu penting? penting sekali. duit itu penting. omong kosong yang bilang tidak penting. tapi sungguh sayang jikalau semua idealisme, passion, dan mimpi kita kadang rela terbelok cuma karena kita menempatkan kepentingan uang sebagai kepentingan terdepan.

entah ya, semua orang punya prinsip berbeda. entah dilatari oleh background hidup yang berbeda-beda pula. tapi secara pribadi untuk masalah ini, saya punya idealisme tersendiri. bagi saya, mensketsa karir itu layaknya membuat lukisan sempurna. kita mengetahui bahwa gambar apa yang akan kita hasilkan pada akhirnya. demi mencapai kesempurnaan, semua langkah dari awal kita perhitungkan. goresan awal bisa jadi tidak bermakna apa-apa. tapi karya besar itu lahir dari ribuan goresan itu. yang pada akhirnya membentuk “Gambar Akhir” yang luar biasa.

untuk menjadi apa yang kita inginkan, terkadang kita harus idealis terhadap rencana yang kita bangun. mulai dari langkah awal. dan biasanya godaan benefitlah yang membelokan. setelah itu biasanya ada godaan nama besar. yang padahal sedikit mengaburkan jalan anda menuju target akhir. menjalani apa yang memang sepenuh hati kita jalani adalah kesempurnaan karir. karena benefit yang sesungguhnya adalah ketika kita bersemangat bangun pagi karena kita tau kita akan melakukan apa yang kita cintai hari itu, dan ketika pulang, kita tidak sabar untuk menghadapi pagi kembali. melakukan apa yang kita senangi.

kemarin malam saya membaca buku biografi steve jobs yang sangat detil. dari keseluruhan cerita, hanya steve jobs yang benar-benar terlihat mengerjakan apa yang dia cintai (walau dengan cara yang terkadang menyebalkan). sehingga dia dapat menghadirkan berbagai produk apple yang kini mempesona dunia. dan ketika dia ditanya mengenai tujuan bisnisnya, dia hanya berkata bahwa dia mendapatkan semuanya ketika dia berhasil menciptakan sesuatu yang dapat merevolusi hidup banyak orang. uang adalah yang kesekian.

malukah kita dengan inspirasi yang ada? ketika pemuda di indonesia sibuk merengek kenaikan gaji dikarenakan kontribusi setengah-setengah? atau bahkan tidak ada?