#ubudTrip : Pesona Bali sebenarnya

Ubud, kata-kata ubud belumlah masuk kedalam rencana untuk saya kunjungi. ketika mendengar kata-kata BALI, pikiran saya sejenak melayang ke gemerlapnya kuta atau seminyak yang penuh dengan asyiknya pesta dan indahnya pantai. setidaknya itulah yang ada dikepala saya mengenai Bali. hingga sejenak saya dikejutkan dengan undangan Marketeers Goes to Museum dari Waizly yang mengajak untuk menyaksikan indahnya dan pesona Bali sesungguhnya.

“Spirit Bali sebenarnya hadir di ubud” saya rasa saya harus membuktikannya.

Perjalanan itu menjadi semakin menarik ketika saya mengetahui bahwa akan turut bergabung beberapa marketer dan Blogger besar tanah air. di airport saya langsung bertemu dengan Simbok venus , Cisca, Pitra, Leonita, Fanabis, handoko dan Rara yang bukan merupakan nama-nama asing lagi di kalangan dunia digital dan marketing. beberapa perkenalan itu terhitung baru, tetapi keakraban cepat terjalin, hingga di tanah bali bergabung pula Benny Chandra, Dicky dan aldo sianturi. mengenal mereka sesaat seperti telah menjalin pertemanan cukup lama.

Malam itu setelah menikmati pesona pantai jimbaran dan hidangan yang luar biasa, kami menuju tanah ubud. perjalanan cukup memakan waktu, yang saya rasakan adalah adanya perbedaan yang cukup terasa ketika kita melewati area sejuta hiburan di area pusat kota hingga memasuki wilayah ubud yang memiliki karakter sendiri. ketika melihat kanan kiri sudah mulai banyak sawah dan rumah kesenian, wajah ubud mulai nampak jelas.

Kami menginap di sebuah hotel yang sangat luar biasa. bukan mewah dengan semua fasilitas. justru hotel ini nampak sederhana, tapi kabarnya inilah hotel pertama yang berdiri di kota ubud, namanya hotel Tjampuhan & Spa yang telah berdiri semenjak tahun 1928.  Walter Spies seorang seniman besar pernah menghabiskan waktu cukup lama disini. bahkan kamarnya pun diabadikan sebagai bentuk sejarah yang luar biasa.

Pemandangan di hotel Tjampuhan

menikmati indahnya pemandangan di hotel Tjampuhan sebenarnya sudah merupakan pesona yang tidak membosankan. tapi perjalanan kami harus berlanjut, pagi ini kami berencana untuk bertemu dengan keluarga kerajaan ubud, sungguh beruntung ketika kami berkesempatan untuk bertemu dengan 3 orang PANGERAN UBUD. Tjokorda Gde Putra Sukawati (CEO Tjampuhan Group), Tjokorda Gde Oka Sukawati (Bupati Gianyar), dan Tjokorda Gde Raka Sukawati (seniman serba bisa, Dosen marketing Universitas Udayana). bahkan rombongan sempat menemui jenazah ibunda para pangeran tersebut yang rencananya akan di-ngaben-kan agustus ini.

foto rombongan bersama keluarga kerajaan ubud

setelah berkunjung puri saren, kami bergegas menuju tujuan selanjutnya. dan ditengah jalan, kami melihat hal yang cukup menarik. ternyata sedang ada proses persiapan upacara ngaben yang akan dilaksanakan hari itu juga. rombongan tertarik untuk melihat lebih dekat. ngaben adalah bentuk penghormatan terakhir bagi jenazah. karena bagi warga setempat, seseorang benar-benar “pergi” setelah proses ngaben.

persiapan proses ngaben

(ki-ka) dixxieland, venustweets, pitra, waizly, leonisecret, ciscaDV, aldosianturi, rara79

sejenak kami melepas lelah dan lapar di bebek Bengil yang terkenal, dan kami melanjutkan perjalanan menuju mokey forrest yang cukup terkenal dikalangan para turis. monyet yang cukup banyak ini membaur dikalangan turis. bahkan tidak segan bergantung kepada pengunjung yang tercium membawa makanan.

perjalanan berikutnya, rombongan bergegas menuju Museum puri lukisan. museum yang diresmikan tahun 1954 ini adalah salah satu catatan sejarah yang mempesona di tanah ubud. ada banyak sekali lukisan dari berbagai generasi di pajang di sini. mulai dari lukisan gaya asli seniman bali, hingga yang telah tersentuh style pelukis asing seperti walter spies dan Rudolf Bonnet yang memiliki karekter yang sangat kuat.

Kalender kuno Bali

Siklus Hidup

Salah satu karya Walter Spies yang ahli "Pencahayaan"

diceritakan bahwa ada satu lokasi yang selalu dijadikan tempat duduk ir. Soekarno setiap beliau mengunjungi museum ini. Soekarno selalu datang lebih dulu dan menunggu penjaga membuka museum ini. beliau kabarnya begitu mencintai museum ini. setelah mengunjungi museum puri lukisan yang terbagi menjadi 3 area, kita bergegas menuju Museum Marketing 3.0 yang berada di lokasi yang sama. saya akan menceritakan lebih lengkap mengenai Museum Marketing 3.0 di artikel khusus yang terpisah. :D

setelah itu, kami menyempatkan untuk mampir ke hotel ketiga yang dibangun oleh kerajaan ubud. inilah hotel termewah diantara semua hotel milik keluarga kerajaan. namanya hotel Royal Pita Maha. kabarnya hotel ini dibangun tanpa digambar (didesain diatas kertas). pemandangan yang hadir menakjubkan. hotel berdiri di tanah menurun, dan kami menghabiskan waktu sambil minum-minum di area terendah hotel disamping aliran air yang mengalir deras.

pemandangan dari lantai utama hotel

pemandangan dari meja hotel Royal Pita Maha

selepas dari hotel, Malam itu kami berencana untuk menghabiskan waktu sambil berbincang hingga larut malam. tapi sekali lagi ubud adalah kota dengan sejuta penghormatan. berbeda dengan area bali lainnya, kita harus berbaur dengan kultur ubud yang menghormati ketenangan diwaktu larut malam. dan kami akhirnya menghabiskan waktu berbincang di lobby hotel Tjampuhan (diiringi dengan kasus hilangnya Hp @venustweets hihihihi..).

terima kasih kepada @hermawank yang telah memberikan kesempatan menarik menjelajahi ubud. dan tentunya kepada @waizly dan @bembi03 yang dengan sabar memperlihatkan begitu indahnya tempat itu. sekarang saya semakin yakin, bahwa ubud lah spirit bali yang sebenarnya.

About Author

Mohamad Ario Adimas
Penulis saat ini aktif sebagai praktisi di dunia Komunikasi pemasaran industri telekomunikasi.

6 Comments

  1. venus

    huhuhu…aku blm sempet nulis :(

    Reply
  2. rara

    aaaargh blum sempat nulis jugakkk *ditiban*

    Eh tim #ubudtrip kemarin sangat menyenangkan. bener2 enjoy :)

    Reply
  3. arioadimas (Post author)

    wahai 2 blogger senior.. jangan lupa pasang foto saya kalau mau posting tulisan #ubudTrip ya.

    hehehehe asli, tim #ubudtrip kemarin seru. perjalanan yang bakal terus terkenang :D

    Reply
  4. Ben

    Gak diceritakan soal pembahasan masa lalu seorang rocker? Eh.

    Reply
    1. arioadimas (Post author)

      hmmm…. sepertinya perlu artikel khusus untuk itu…

      Reply
  5. @wing_fw

    waaah, benar” ga sabar untuk segera berkunjung kesana (re : museum marketing 3.0). :)

    Reply

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *