Pie Telur, dan Kenangan dari ibu yang dirindukan.

tik… tok.. tik… tok

Saya jadi menerawang. kesuatu waktu yang sudah lewat cukup lama.

dari dulu hingga sekarang saya adalah anak lelaki yang sangat dekat dengan ibu. dulu ketika SD, selepas saya sekolah ibu sesekali meminta saya untuk menemani beliau Belanja ke satu pojok pasar tradisional di kota palembang. kita sebut daerahnya bernama megaria. karena terdapat satu pusat bangunannya dengan nama yang sama.

Menemani ibu belanja barang-barang tekstil sejujurnya bukanlah hal yang menyenangkan bagi seorang bocah lelaki. yap itu membosankan. terkadang saya tidak bisa menutupi air muka saya pada saat saya benar-benar merasa bosan. saya hanya terus menggenggam tangan ibu dengan muka masam. hanya berharap beliau menghibur dengan membelikan mainan atau beliau memilih untuk cepat pulang.

Seorang ibu adalah mahluk yang dianugrahkan tuhan kemampuan untuk meredam semua keluh negatif dari keluarganya. betul bukan?

Masih jelas dibenak saya, ibu tiba-tiba membelokan arah menuju satu pojok toko kue tradisional. tempatnya lusuh tapi tidak jorok, berada pada pojok depan Pusat Megaria. beliau duduk sejenak dan memesan satu menu. ya beliau memesan 4 Pie Telur. sebuah kue yang berbentuk mangkuk dengan lapisan licin mengkilat berwarna kuning segar ditengahnya. saya tidak berbohong bahwa saya jatuh cinta pada pandangan pertama dengan kue tersebut. nampak sungguh segar dan nikmat. Gigitan pertama saya sungguh luar biasa. saya merasakan nikmatnya pie telur itu hancur dilidah dan terkunyah dimulut. dan ibu bahagia memandang saya bersemangat kembali.

Sejak saat itu, saya selalu bahagia menemani ibu ke megaria dengan tujuan untuk selalu kembali kesana. namun beranjak semakin dewasa, berkurang pula intensitas ibu kesana ketika pusat perbelanjaan modern perlahan menjamur di kota palembang. Namun kerinduan saya terhadap Pie Telur itu tidak pernah hilang. bahkan saya beberapa kali mendatangi sendiri tempat itu ketika SMP dan SMA. Tokonya masih ada, tapi saya tidak pernah mendapat Pie Telur yang sama.

dari SMP, SMA hingga Kuliah. dari Palembang, bandung dan jakarta. percaya atau tidak, saya selalu menyempatkan mencari Pie Telur yang sama. mulai dari pasar tradisional dan Mall saya datangi, hasilnya Nihil. hingga kakak saya Ayu Dyah Andari turut mencari hingga dia menemukan Kue dengan wujud yang sama dengan warna yang lebih pucat, tapi bukan itu. bukan.

beberapa waktu yang cukup panjang setelah itu, saya sudah lama tidak terfikir untuk mencarinya kembali. suatu sore sekitar 3 minggu yang lalu di Gandaria City. saya dan pacar sedang menghabiskan waktu santai disana. pacar saya seketiba kembali dari kamar kecil berkata.

“aku lihat satu toko kecil yang menjual Kue persis sekali dengan penjelasan kamu. mungkinkah?”

Saat itu saya langsung mendatangi dengan penuh semangat toko tersebut. Wujudnya sama, warnanya sama. saya tidak bisa menutupi rasa antusias saya. saya memesan dan tidak sabar mencoba. satu gigitan pertama, saya seperti naik mesin waktu sejenak ke suatu masa. masa dimana ibu menghibur saya dengan memberikan pie tersebut semasa kecil. renyah satu gigitan pertama benar-benar membuat saya mengingat semua hal bahagia saat itu.

hari itu saya duduk di pojok toko kue itu, makan serta bercerita dengan pacar dengan sangat antusias. bercerita dengan noraknya seberapa saya bahagia menemukan Pie Telur itu, sesuatu hal yang biasa namun luar biasa bagi saya dan masa kecil saya. bahkan pada minggu-minggu berikutnya, saya membeli khusus kue tersebut untuk saya hadirkan ke orang tua saya yang kebetulan datang ke jakarta dan kakak-kakak kandung saya.

untuk merasakan bahagia itu sederhana bukan?

Bagi anda yang mau coba, anda bisa ke Gandaria City lantai yang sama dengan Bioskop. nama toko kuenya adalah Golden Egg. dan ini bukan post berbayar yaa… benar-benar enak!

 

Musholla di dalam Mall

dulu sekali.

dulu sekali saya tidak suka Shalat ketika berpergian di Mall. mengapa? pertanyaan saya kepada ayah saya selalu sama. jikalau manusia menganggap Shalat sebagai perbuatan suci yang menggambarkan hubungannya kepada tuhannya, mengapa arena sholat didalam Mall dibuat seakan-akan bukan tempat yang dihormati?. bukankah tempat “berdoa” identik dengan tempat yang kita hormati, kita jaga kebersihannya serta kita sucikan?

pernahkah kalihan melihat tempat sholat di Mall beberapa tahun yang lalu? yap kebanyakan berada di area yang sama. di area parkir, bahkan sebagian besar dipojokan. beberapa bahkan tidak memakai pendingin sama sekali. tersudut, panas dan cenderung kotor. padahal dipakai untuk beribadah.

sejak saat itu saya membayangkan, tentu akan sangat indah ketika akan ada saatnya jika tempat sholat setidaknya diposisikan ditempat yang jauh lebih nyaman. berada dibagian Mall yang gampang diakses. diberi setidaknya pendingin agar dapat beribadah dengan nyaman, tempat mengambil wudhu yang luas, dan sebagainya. tapi yah sudahlah, apa mau dikata. pengusaha property tentu lebih memilih mengalokasikan posisi untuk outlet yang akan menghantarkan banyak uang untuknya.

tapi masa mulai berubah, nampak kecenderungan harapan terhadap servis mulai kental. manusia tidak lagi hanya berpusat pada kebutuhan, tetapi juga nilai tambah yang membuatnya nyaman. tuntutan tempat ibadah yang “Manusiawi” dipusat umum seperti Mall terus berdatangan. Mall mulai melakukan pembenahan.

dari beberapa Mall yang ada, perhatian saya jatuh kepada Gandaria City.

tempat menitip sepatu/sandal. keren ya

mengapa Gandaria City? Gandaria City menghadirkan Musholla yang bukan hanya nyaman dari segi fasilitas. mereka memperhatikan hal-hal kecil mulai dari ukuran tempat sholat, pendingin, tempat ber wudhu bahkan tempat menunggu. tempat berwudhu dibuat cukup besar dan Lega.

Tempat Wudhu

Selain tempat wudhu, tempat sholatnya sendiri berukuran cukup luas. tidak perlu berpanjang-panjang antri. karena besarnya sudah cukup untuk banyak orang sekalipun. fasilitas sarung telah disediakan untuk yang mungkin tidak membawa perlengkapan sholat lengkap dan Al-Quran bersih dan terjaga kondisinya serta siap dipergunakan.

Tempat Sholat

Musholla ini berada didalam Bagian Mall, individu yang ingin beribadah tidak perlu jauh-jauh berjalan. karena posisi Mushalla ini dibuat sedemikian rupa agar dapat mudah dicari dan diakses semua pengunjung Mall.

Bagi saya, beribadah bisa dengan banyak hal. salah satunya adalah memfasilitasi umat muslim lainnya untuk beribadah dengan nyaman dan Layak. terima kasih bukan hanya kepada Gandaria City, tapi juga Mall-mall yang sudah mulai memikirkan akan kenyamanan pengunjung dalam beribadah. sesungguhnya ketenangan ini mahal harganya. tetapi jauh lebih memberikan Value dari sekedar mentargetan tercapainya tujuan bisnis semata.

Saya jadi makin rajin Sholat di Mall.. hehehehe.. Kalau anda?