Buku Putih Komunikasi Media Sosial

Dari beberapa kali saya membahas mengenai Media Sosial  baik di Blog, Twitter atau Facebook saya selalu mengucapkan beberapa hal yang sama. Hal tersebut tentunya adalah hal yang saya anggap sangat perlu ditekankan. Salah satunya adalah Karakter.

Apa yang membedakan aktivitas suatu Brand dengan Brand lainnya di ranah Media Sosial? Jelas itu adalah karakter. Brand yang hanya sapa-sapa dan tulis konten dengan cara yang biasa, gaya komunikasi yang biasa sama seperti brand lainnya dan tidak istimewa tentunya tidak memiliki pandangan yang spesial dari konsumen.

Contohnya adalah akun @my_supersoccer , akun yang membahas mengenai sepakbola ini memiliki gaya komunikasi yang justru unik. Tidak mendewakan followers bahkan cenderung sangat santai dan hobi berkata “Pedas” dan lucu. Justru karena itu akun ini diminati dan direspon dengan cukup baik. Adapula akun @onyitkawanku. Akun dari majalah kawanku yang menjelma sebagai karakter monyet pink centil dimedia sosial. Ini menghadirkan komunikasi yang unik dengan penggemar mereka. Konsistensi Onyit menghasilkan Konsistensi feedback dari penyimaknya. Mereka berkomunikasi seolah-olah yang mereka hadapi memang karakter si monyet pink ini. Begitu juga beberapa akun lainnya, inilah salah satu cara Brand bertahan bahkan mencatat hasil gemilang di ranah media sosial. Menjadi berbeda dan berkarakter.

Nah penciptaan karakter tersebut butuh konten dan konsistensi. Isi harus unik dan variatif tapi karakter harus konsisten. Tapi kendalanya di brand adalah bisa jadi akun-akun ini berpindah tangan atau diurus oleh beberapa orang berbeda. Ini kerap menjadi halangan dalam menciptakan konsistensi karakter lewat komunikasi yang tercipta. Salah satu cara untuk menghindari hal ini adalah harus adanya Buku Putih Media Sosial. Catatan dimana anda menulis detil mengenai spesifikasi identitas dan komunikasi brand anda di media sosial yang harus dipatuhi oleh setiap pihak yang turut mengolah akun tersebut.

 

Hal-hal apa saja yang harus dijadikan fokus dalam menciptakan poin-poin dalam Buku Putih Media Sosial brand anda?

1. Jadwal update

Bisa jadi Benar adanya pendapat yang berkata bahwa update status yang terjadwal itu membosankan. Tapi anda memang harus menetapkan jadwal pasti dimana pada saat-saat tersebut anda harus muncul. Untuk update status di jam lain tentunya tetap diperbolehkan. Penjadwalan khusus ini tentunya disesuaikan dengan jam aktif Penyimak anda di media sosial.

2. Bentuk Sapaan

Bentuk sapaan termasuk momen dimana karakter anda diingat. Bentuk sapaan yang unik dan berbeda inilah yang menciptakan karakter yang nantinya bisa dinikmati oleh Penyimak.

3. Bentuk Panggilan terhadap Pendengar/Pembaca

Setiap karakter yang kamu ciptakan tentunya memiliki cara memanggil penyimak yang berbeda-beda. Ada yang cenderung formal, santai, serius atau apapun itu. Dan panggilan pun harus disesuaikan dengan “Siapa Anda” serta “Siapa Mereka”.

4. Konten Umum

Anda harus menuliskan di buku putih anda mengenai Konten umum yang anda tekankan pada komunikasi anda sehari-hari. Pastikan tetap searah dengan pesan utama brand anda. Apakah itu bercanda, serius, bercerita, mengajar, berbagi.. anda harus tetap arahkan temanya sejalan dengan tema pesan anda.

5. Rubrik Konten

Media Sosial itu seperti Produk media lainnya. Sudah sepantasnya memiliki Rubrik Rutin. Ada saat dimana satu tema diceritakan dengan bahasan yang berbeda-beda pada satu momen tertentu yang rutin. Misalnya ada rubrik Tanya jawab setiap hari rabu malam atau sebagainya. Ini harus tercatat di buku putih untuk keseragaman penjadwalan.

6. Komunikasi dalam kondisi Bermasalah.

Terkadang hal yang menggelikan terjadi dimana setiap brand muncul dengan karakteristik emosi yang berbeda-beda ketika menghadapi masalah dengan para penyimak mereka. Ini jelas mempengaruhi konsistensi karakter mereka. Di buku putih harus tercatat tata cara berkomunikasi untuk brand dikala mereka menghadapi sesuatu yang negatif dari penyimaknya.

 

Sudahkah anda memiliki Buku Putih Komunikasi Media Sosial?

Kunci Community Marketing : Partisipasi

Beberapa hari ini, saya sedang cukup banyak bertemu mitra bisnis yang berkata bahwa mereka ingin menciptakan komunitas. Tetapi percaya atau tidak, bagi sebagian orang membangun komunitas itu hanya perihal mengumpulkan orang dan membuat Meet Up. Setelah itu mereka akan bilang ke banyak pihak bahwa mereka memiliki komunitas. Hey, Tidak seperti itu. Tidak sedangkal itu.

Sebelumnya saya sudah berbicara mengenai Community Marketing. Tapi sesungguhnyaCommunity Marketing yang benar-benar berjalan adalah yang sudah tercipta partisipasi alami disana. Kuncinya memanglah partisipasi. Partisipasi yang hadir secara konsisten dan bahkan tanpa “Pancingan” dari Perusahaan. Nah permasalahannya, bagaimana menciptakan partisipasi dalam komunitas?

Kuncinya tidaklah Rumit. Anda cukup membuat mereka merasa Dikenal, Didengar dan Dilibatkan.

Dikenal

Mereka baru memiliki “Rasa Memiliki” kepada brand anda dan komunitas itu ketika mereka yakin betul bahwa anda mengenal mereka. Bahwa anda menaruh perhatian lebih pada mereka. Membuatkan Meet Up tidak membuat mereka merasa dekat dengan anda. Turunlah untuk berkenalan langsung dengan mereka. Secara personal. Mereka akan memiliki kebanggaan sendiri ketika mereka merasa punya akses lebih dibandingkan orang-orang diluar komunitas untuk “Akrab” dengan anda dan Tim.

Didengar

Selama ini orang selalu merasa bahwa mereka “Dipaksa mengkonsumsi” apa yang diproduksi oleh perusahaan. Tapi zaman menghantarkan kita pada masa dimana perusahaan turut meminta pendapat komunitas dalam pengembangan. Karena sejujurnya merekalah yang mengenal apa yang kita buat. Mendengarkan apa yang mereka anggap penting adalah cara untuk membuat mereka merasa berpartisipasi. Dan tentunya mereka akan memiliki perhatian lebih kepada sesuatu yang tercipta lewat diskusi bersama dengan mereka.

Dilibatkan

Beberapa Brand bahkan saat ini sudah berani menciptakan bentuk partisipasi yang lebih jauh bagi komunitas. Komunitas dilibatkan sebagai pihak-pihak yang turun langsung kelapangan. Bahkan beberapa brand merasa bahwa tokoh komunitas lebih dipercaya daripada expert yang dibawa brand tersebut sekalipun.

Sudahkah anda membuat konsumen anda merasa dikenal, didengar dan dilibatkan?

Tulisan ini juga bisa disimak di Startupbisnis