Bagaimana Kementrian menerapkan Digital Communication Strategy?

Bisa dibilang, beberapa bulan terakhir saya cukup sering menampakan diri di dua kementrian dibawah pemerintahan Indonesia. Yang pertama adalah Kementrian Keuangan, yang kedua adalah Kementrian komunikasi dan Informasi.

Satu hal, saya kagum. Sepertinya tidak lagi kita harus terlalu sinis dengan kementrian atas tuduhan tidak inovatif, berada pada zona nyaman, tidak membuat terobosan dll. Terbukti mereka sangat ingin berkembang, Contohnya, kini mereka giat memanggil narasumber dari luar kementrian untuk hadir agar mereka dapat belajar banyak hal baru.

Ketika mengisi di Kementrian Keuangan

Saya di panggil untuk kurang lebih materi yang sama. Sharing tentang pengalaman mengenai Digital Business dan Digital Communication. Kurang lebih untuk digital communication, mereka berharap dapat menerapkan apa yang dilakukan perusahaan swasta ke kementrian. Menurut saya ini Make sense, since Kementrian kini katakanlah punya “Produk” yang dikomunikasikan ke Rakyat yang disini sebagai “Customer”. Produk tersebut adalah Layanan atau Kebijakan.

Masalah ketika menyampaikan? Tentu saja ada. Untuk pegawai kementrian yang muda sangat antusias mendengar saya bicara. Tetapi untuk pegawai senior, bahkan terlihat sangat tidak tertarik. Ini dia tantangan kementrian untuk menanamkan mindset secara perlahan ke pegawai kementrian senior yang hingga kini masih menjadi pengambil keputusan. Jika tidak, tentu percuma.

Berkontribusi di salah satu event Kementrian Komunikasi dan Informasi

Ada beberapa hal yang saya lihat perlu untuk ditanamkan oleh kementrian ketika mereka mau menerapkan Digital Communication sebagai strategi penting. Kira kira seperti ini:

Harus belajar menerapkan KPI pada strategi komunikasi. Terutama Digital

Banyak yang bilang, Kementrian berkerja terkadang seperti tanpa KPI. Ini harus kita ubah perlahan. Seperti perusahaan swasta yang hidup matinya tergantung di KPI, KPI komunikasi terutama digital adalah hal penting sekaligus bias menjadi acuan jelas untuk kerja.

Harus bisa mengemas dengan jelas Produknya (Layanan atau Kebijakan)

Kami di swasta biasanya menjual produk nyata ataupun layanan, tapi di kementrian sedikit sulit. Biasanya fokus mereka adalah mendeliver produk bersifat kebijakan. Ini bentuknya bias di bilang sedikit absurd. Pegawai kementrian harus bias mengemas kebijakan ini sebagai produk yang jelas untuk di konsumsi. Bikin definisi dan Call to action yang jelas untuk rakyat.

Mulai untuk membiasakan pegawainya untuk terbiasa menggunakan media digital.

Bagaimana mau dianggap penting, jika digital sendiri bukan hal yang biasanya digunakan oleh stakeholder didalamnya. Karena itu menurut saya penting untuk membuat mereka terbiasa menggunakan media digital.

Hilangkan Pola Pemikiran “Terima atau tidak, Rakyat harus menjalani ini”

Ini dia. Konsep berfikir apa yang di deliver adalah Mandatory ini membuat keinginan para pegawai kementrian untuk mengemas secara berkualitas “Komunikasi Kebijakan” mereka menjadi rendah. Sekali lagi, ubah mindset seperti karyawan swasta yang hidup matinya ditentukan oleh penerimaan konsumen terhadap produk mereka.

Edukasi down to Top. Serta komitmen Top Down.

Perlu di akui, Pemahaman digital communication di kementrian justru banyak hadir duluan di karyawan muda atau Gen Y. jangan malu malu untuk brainstorm dan peroleh masukan dari mereka. Tapi untuk komitmen? Ini jelas harus top down. Setelah semua framework strategi jelas, mintalah endorse dari Boss tertinggi di kementrian tersebut untuk menerapkan Digital sebagai strategy wajib. Mau tidak mau. Dan biarkan mereka terbiasa setelahnya.

 

Halo, Telkomsel.

Telat sih, iya telat.

Telat dalam dua hal. yang pertama adalah telat posting blog setelah beberapa bulan didiamkan. dan yang kedua telat mengangkat Topik ini setelah sudah bekerja kira-kira sekitar 5 Bulan.

Setelah Posting terakhir di Blog ini adalah artikel tentang perpisahan saya dengan Microsoft, saya kini memberitahukan tempat pelabuhan saya berikutnya.

Adalah Telkomsel. Operator selular nomor satu di indonesia. tepatnya resmi sejak Juni, saya bertanggung jawab untuk Posisi Marketing Manager untuk Digital Advertising Group. dimana saya mendukung penuh Sub Dir Digital Advertising Telkomsel dalam sisi Strategic Planning dan Go to Market Management.

Ini cukup sesuai dengan tantangan yang berikutnya untuk saya, dimana saya dipercaya untuk menghandle lingkup Marketing yang lebih luas lagi setelah sebelumnya saya Fokus membangun strategi digital marketing untuk Microsoft.

Halo Telkomsel. :)

Kalau Karyawan Saya Twitteran, Saya Biarkan?

Pertanyaan itu muncul ketika saya berkesempatan ngobrol dengan salah satu petinggi sebuah perusahaan. Beliau memang sudah cukup berumur, beliau aktif dari saat dimana Social media belum meledak seperti sekarang. Dan Wajar beliau berfikir bahwa perlu pemahaman betul untuk mengambil langkah di area ini.

Tanpa pemahaman yang mendalam, jelas semua orang berhak mengambil opini apa saja. Dari garis besar pemikiran sebagian orang, Twitter adalah area di mana sebagian besar orang berceloteh ke banyak arah. Berbicara tentang banyak tema. Apalagi berbagai riset berkata bahwa sebagian besar pengguna twitter adalah anak-anak muda yang langsung dikemas oleh beberapa orang sebagai kesimpulan bahwa mereka-mereka yang hadir disana bukanlah Pengambil Keputusan dalam sebagian besar hal.

Nah apalagi ketika melihat Karyawan yang pada dasarnya dipekerjakan, dibayar dan diharapkan betul memberikan kontribusi malah asyik terlihat Twitteran. Ini yang kerap dianggap beberapa pelaku bisnis sebagai masalah.

Jika diperhatikan betul, Sebuah perusahaan harusnya bisa mengambil manfaat dari hal ini. Karyawan adalah individu utama yang bisa dimaksimalkan sebuah perusahaan untuk menjadi duta produk perusahaan mereka. Tentunya bukan dalam bentuk perintah langsung, sebuah perusahaan harus bisa menciptakan iklim yang tepat. Mengkombinasikan antara Kecintaan Karyawan dalam aktivitas twit dengan kecintaan mereka terhadap produk perusahaan. Berikut beberapa langkahnya:

1. Pastikan Karyawan Bangga dengan Produk Anda.

Tentu untuk menciptakan suasana dimana mereka secara sukarela menjadi Duta produk anda di Timeline twitter, anda harus menciptakan kebanggaan mereka terhadap produk perusahaan. Bukan tidak mungkin anda harus menciptakan aktivitas internal yang bertujuan untuk menghadirkan betul rasa kekaguman mereka terhadap produk. Meyakinkan mereka bahwa mereka berkerja di perusahaan dengan produk luar biasa.

2. Pastikan Karyawan mengerti cara memaksimalkan Twitter dengan baik.

Terlepas dari poin pertama, untuk membentuk penggunaan Twitter yang baik dari karyawan, jangan ragu untuk menanam investasi untuk membekali Karyawan anda cara yang tepat dalam memaksimalkan penggunaan Twitter (atau Media Sosial lainnya). Dengan mereka mengetahui cara yang benar, mereka pada akhirnya dapat menjadi Individu yang berpengaruh di Media Sosial, dan ini menjadi kekuatan tersendiri ketika mereka menjadi Duta Produk anda di Timeline.

3. Memberikan Info detil untuk mereka Kabarkan.

Perusahaan kerap menghadirkan informasi detil kepada pihak luar, tanpa mereka memastikan bahwa apakah karyawan mereka memahami betul informasi produk mereka didalam. Memang mempelajari produk harusnya wajib untuk mereka, tetapi tidak ada salahnya anda menginformasikan kembali secara detil produk anda hingga poin-poin menarik yang membuat mereka merasa memiliki “Bahan” untuk Dikabarkan.

4. Fasilitasi Mereka

Seperti yang anda tahu, banyak perusahaan menutup akses media sosial di perangkat computer karyawan mereka. Sekali lagi ini keputusan anda, tetapi akan lebih bijak jika kita tidak Melarang penuh. Tapi lebih ke mengajarkan mereka untuk lebih bijak. Bahkan bukan kesalahan apabila sesekali justru anda menghadirkan sebuah kompetisi aktivitas media sosial agar mereka tergerak untuk aktif dan pada akhirnya dapat menjadi duta perusahaan di media sosial.

Memang pernah ada kata-kata bahwa suara satu konsumen lebih berarti dibanding ribuan kata-kata karyawan sebuah perusahaan yang sedang menceritakan produk perusahaannya. Tetapi dengan menghadirkan suasana di mana mereka menjadi duta dengan seluruh kebanggaan dalam diri mereka, sesungguhnya suara mereka memiliki nilai yang sama dengan Konsumen. Mereka sama-sama bercerita karena Mencintai.

 

Tulisan ini juga bias disimak di Startupbisnis : http://startupbisnis.com/kalau-karyawan-saya-twitteran-saya-biarkan-oleh-arioadimas/